26 Okt 2013

[[Single]] SCANDAL - Kagen no Tsuki

| |
0 komentar
Tracklist :
Kagen no Tsuki (下弦の月 ; Waning Moon)
Kimi to Mirai to Kanzen Douki (キミと未来と完全同期 )
Kagen no Tsuki (instrumental)

Read More

Curhatan mahasiswa baru : Cintaku Pupus di Gerbong 6

| |
0 komentar
Yahoo! Ada yang kangen sama saya?
Nggak ada?
Bagus… berarti kalian semua masih waras.
Welp kali ini ditengah deraan dan siksaan UTS dan tugas-tugas yang makin scumbag. Saya menyempatkan diri untuk menceritakan pengalaman absurd yang terjadi beberapa minggu lalu.
Ini cerita waktu pertama kalinya nyobain yang namanya naik kereta. Yap! Di tahun 2013 ini, saya pertama kalinya naik kereta dan itu keretanya slowpoke banget bungat bangat! Saat itu gue sedang menjalankan misi rahasia untuk menyergap pasukan alien yang mendarat di jogja ( cerita asli : mudik ke rumah nenek di wonosari untuk ngambil plat motor item). Kira-kira itu jam lima gue dan beberapa teman yang lain yang juga mau mudik berangkat ke stasiun Puerto rico.
                Feels like richman, kita berangkat ke stasiun naik taksi. Dih itu taksi dingin banget dalemannya. Wangi pula itu. Nggak kayak kamar kost gue yang bau mayat.
                Singkatnya, kami udah sampe stasiun. Dan kami masuk ke ruang tunggu yang ada di dalem. Stasiunnya bagus sih. Kayak stasiun den liner yang sering gue liat di film kamen rider den-o.
                Dengan jumawa nya, gue masuk ke dalem sambil mata gue jelalatan liat kemana-mana. Sampe nempel di rel kereta. Lalu saat itulah gue melihat seorang gadis yang dari aura-auranya itu gue paham banget siapa.
                “Mampus tot! itu si Mawar!” gue nyikut Henokh, temen gue, sambil nunjuk ke arah cewek yang lagi asik ngegosip sama temennya. Namanya disamarkan ya… sebut saja dia Mawar.
                “Mana mana!” bales si Henokh. Matanya kemana-mana, sampe hamper lepas dan nempel di pintu toilet.
                “Itu disana!”. Gue nunjuk ke arah Mawar.
                “Itu si Mawar? Kok mukanya beda? Salah orang kali lu”.
                “Beneran itu Mawar! Paham banget gue mukanya”.
                Dan saat itu juga, terjadi pergumulan dalam hati gue. Selama ini gue selalu berdoa sama tuhan biar dipertemukan sama dia. Tapi gue lupa berdoa minta keberanian buat nyamperin dia dan ngajakin kenalan. Temen-temen gue terus-terusan bilang kalo itu bukan Mawar karena nggak mirip sama Mawar yang ada di foto yang gue dapet dari hasil stalking berhari-hari di dunia persilatan. Tapi gue yakin banget kalo itu Mawar. Cuma waktu itu dia keliatan lebih endut. Pipinya tembem kayak bakpao, matanya susah melek—tipikal orang cino. Yap! Dialah cewek yang sudah membuat gue hepatitis komplikasi paru-paru basah selama beberapa minggu terakhir.
                Akhirnya terjadi konflik batin dalam diri gue, ini adalah golden chance yang paling super ultra hyper mega rare, tapi disisi lain gue takut banget buat melangkah nyamperin dia. Gue takut kalo gue dikira sok kenal, dinajisin, lalu dilemparin tanah. Sama kakak-kakak yang gue suka. Yang ada gue bakal berakhir tiduran di rel kereta dah.
                Temen-temen gue berusaha memberi keberanian mereka dengan transfer tenaga dalam. Mereka mencoba ngeyakinin gue untuk nyamperin dia. Tapi again, gue payah kalo soal perwanitaan begini.
                Lalu gue sempet ketemu juga sama kakak-kakak UMAKA. Kalo nggak salah namanya kak Irene sama Kak Desi. Dilihat dari setelan mereka, kayaknya mau mudik juga. Gue samperin mereka. Gue kepoin, sekalian Tanya ke mereka, cewek itu beneran Mawar atau bukan.
                Mereka mengiyakan pertanyaan gue, lalu dengan jumawa nya mereka ngacir karena kereta mereka udah dateng. Selamat tinggal kakak-kakak! Semoga kalian selamat dari serangan alien *hammer*
                Gue makin stress, sampe gue meluk-melukin tiang stasiun. Lagi-lagi gue hanya bisa ngeliat dia dari kejauhan, dari jarak yang benar-benar jauh. Lalu, saat gue sudah mengumpulkan banyak keberanian sampe mau tumpah kemana-mana, pas gue jalan mau ngedeketin dia, tiba-tiba wild girl appears! What should we do Pikachu?
                Tiba-tiba seongan kakak-kakak nyelonong dan langsung duduk di sebelah Mawar yang tadinya kosong. Gue langsung despair dan hampir melahirkan phantom baru. Lagi-lagi gue gagal ngajak kenalan cewek. Kenapa keberanian gue harus datang terlambat?
                Dan yang paling bikin sesak napas adalah, beberapa menit setelah itu, kereta yang bakal dinaiki sama si Mawar dateng. Dan dia langsung masuk ke kereta. Dia masuk ke dalem sana tanpa gue sempet ngajakin dia kenalan. Gue nyesel, gue despair, gue sedih, gue laper. Gue cuma bisa bengong waktu ngeliat dia jalan di depan gue dan masuk ke gerbong 6, kereta kutojaya jurusan Puerto Rico – Jekardah. Cintaku pupus di gerbong nomor 6.
                Mendadak gue langsung lemes. Apalagi saat menyadari kalo kereta yang dinaki Mawar perlahan-lahan merambat menjauh dari stasiun. Waktu itu, satu hal yang bisa gue ucapkan dalam hati sambil melihat kereta itu berangsur-angsur menghilang di kegelapan adalah :
                “Selamat jalan kak! Semoga liburanmu epic”

                Dan itulah pengalaman gue naik kereta yang pertama kalinya. Diliputi kesedihan dan kemuraman. Seperti kehidupan jomblo pada umumnya.

bonus : live report dari temen saya @nokhgondes


Read More

4 Okt 2013

Colours : Sebuah Tulisan oleh Panda Mainsetrum

| |
0 komentar
Hidup ini memiliki banyak warna. Ratusan, bahkan ribuan warna bisa kita lihat di sekeliling kita. Ada warna kebahagiaan yang bisa kita lihat di senyum orang-orang, ada pula warna kesedihan yang terciprat diantara tangis dan kesedihan. Warna kemarahan, warna kebimbangan, dan masih banyak lagi warna-warna di dunia ini. Setiap warna terkumpul membentuk warna yang baru, hingga dunia ini tampak lebih indah tiap kali kita mengedipkan mata.
Aku juga pernah melihatnya, warna-warna indah saat pertama kali bertemu dengan dia. Perasaan bahagia yang ingin kuceritakan pada orang-orang yang kutemui.
Sejak pertama kali melihatnya, bagiku dunia tampak seperti kanvas. Dimana setiap kali aku melihatnya, satu warna tercoret di kanvas itu. Melihat senyumnya, wajahnya, bahkan saat memandanginya dari belakang. Dari jarak puluhan meter. Setiap kali memandanginya dan mengingatnya adalah saat paling manis yang pernah kurasakan. Lebih manis dari gula-gula kapas merah jambu.
Tapi sebelum aku sadar, sudah terlalu banyak warna yang tercampur disana. Akhirnya warna-warna itu tercampur. Semakin gelap dan muram. Sama seperti saat aku menyadari kalau aku tidak akan pernah bisa menjangkaunya.
Bagiku keberadaannya sangat jauh sekali. Sangat jauh hingga bayangannya menjadi samar. Baginya, aku adalah sesuatu yang tak pernah terlihat keberadaannya.
Terlalu banyak warna. Akhirnya menjadi abu-abu, semakin gelap, lalu jadi hitam. Sangat hitam hingga membuat semua orang berpaling dan enggan melihat warna itu. Kusam, dan kotor. Dan itulah saat dimana aku mengetahui kalau aku tak akan pernah lagi bisa dilihat olehnya—seberapapun kerasnya aku mencoba. Aku tak akan pernah bisa meraihnya.
Tidak akan pernah, karena sudah ada seseorang yang menggenggam tangannya. Menariknya menjauh dari pandanganku. Tiap detik semakin jauh, hingga akhirnya hilang. Menyisakan warna hitam yang keruh.
Tapi setidaknya, berkatmu aku pernah melihat indahnya warna-warna itu. Terima kasih. Semoga suatu saat kamu bisa menyadari keberadaanku
Read More

Popular Posts